Tuhan
mencintaimu dengan caraNya, maka bersabarlah dalam menemukan cinta sejati
Hi
dears,
This
is my first writing in my blog. Hari ini aku mau share tentang pernikahan, siapa tahu bisa memberikan ide, pencerahan atau barakah lainnya bagi yang sedang berjuang mencari belahan jiwa teman mengarungi hidup di dunia. hehe. Eh, by the way perkenalan dulu kali ya. Nama aku Neng Sumi Kulsum, some people
call me Umey.
Memang penting
yang mey perkenalan?
Ya
penting, so you know me and maybe i know you. :)
Pernikahan.
Mmmm. Aku dan suami menikah tahun lalu tepatnya 17 Desember 2017 dengan
persiapan yang cukup singkat yaitu satu bulan kalau tidak salah. Sejujurnya kami
tidak saling mengenal dengan baik. Kami menjalani pacaran semi-semi ta’aruf begitu,
hehe, bukan ta’aruf murni seperti orang-orang lain. Awalnya setahun sebelum
bertemu dengan suami tepatnya 2016, aku sedang galau-galaunya sebagai anak
gadis yang tak kunjung menikah. Orang tua especially my mom sudah sering
menyuruh untuk mencari jodoh, padahal waktu itu kuliah juga lagi perjuangan
sidang skripsi, desperate lah. Iseng-iseng aku tanya mbah gugel tentang ta’aruf
online, wkwkwkw, seputus asa itukah aku. Akhirnya ketemu deh aplikasi ini,
namanya AyoNikah.com. Aplikasi ini mengharuskan kita registrasi berbayar, waktu
itu bayarnya 300ribu. Nah aku pikir kalau orang-orang yang mau bayar untuk
aplikasi ini mungkin adalah orang-orang yang benar-benar mencari jodoh bukan
untuk main-main. Ya namanya juga ikhtiar, dicoba saja.
Singkat
cerita, aku bertemu untuk berkenalan secara langsung dengan pria yang sekarang
menjadi suamiku. Jujur saat itu aku tidak tertarik, dan seperti itupun dia. Kami
terkesan bermain-main dalam komunikasi saja. Akhirnya kami putus komunikasi dan
aku blok nomornya. Aku pun menemukan seseorang yang aku rasa akan menjadi belahan
jiwa aku yang terakhir, ceileehh gayanya. Eh, tapi bener, kami saling mencintai
namun sayang semuanya terganjal di restu orang tua. Akhirnya kami berpisah. Susah
cyiin kalau memaksa menikah tanpa restu orang tua, nanti kualat bagaimana. Bingung
juga kan.
Di
tengah kegalauan entah kenapa aku buka kembali blokiran nomor sang suami. Eh
tahunya dia kembali menghubungi dan bertanya kenapa nomornya di blok. Huhuuu habisnya dulu kamu nyebelin. Kami
kembali berkomunikasi, tahun 2017 kalau tidak salah bulan Agustus aku bertemu
kembali dengan doi. Semenjak dari situ beberapa kali kami bertemu. Terakhir bulan
September aku bilang padanya bahwa tanggal 1 Oktober aku berulang tahun jika
dia berniat serius maka lamarlah aku secara pribadi dulu sebelum ke orang
tuaku. To the point begitu ngomongnya.
Eh
ternyata bener, tepat di ulang tahunku doi memberikan cincin sebagai hadiahnya.
Galau sih. Bener atau tidak tindakan aku ini. Aku curhat ke mamaku dan dia
menyuruh aku solat istikharah. Mamaku sendiri tidak tahu menahu karena memang
tidak kenal dengan doi.
https://kelascinta.com/relationship/pandangan-keliru-tentang-cinta
Aku
coba untuk istikharah memohon petunjuk Allah benar atau tidak memilih pria ini
menjadi imam hidup. Saat itu memang belum ada khitbah resmi jadi masih bisa
untuk dibatalkan hanya diantara kami berdua. Kebetulan saat itu juga entah
bagaimana beberapa orang datang juga untuk melamar. Makin galaulah. Aku memohon
pada Allah untuk ditunjukan yang terbaik untukku. Doaku saat itu adalah berilah
pendamping yang dengannya aku bisa lebih bersyukur dan bersabar. Alhamdulillah jawaban
itu diberikan oleh Allah, aku mimpi sedang mengurus seorang ibu yang sudah
sepuh yang ternyata adalah ibunya sang suami padahal aku belum pernah bertemu
dengan beliau. Maka mantaplah aku memilih suamiku ini.
Tidak
mudah untuk langsung memutuskan menikah, godaannya cukup banyak. Mulai dari
terbuka sifat-sifat buruk kami, waktu yang singkat untuk mempersiapkan pesta
pernikahan. Semuanya ujian kesabaran. Ah pokoknya dipenuhi airmata. Saat itu
hanya Allah tempat bersandar, Allah tempat meminta, Allah tempat mengadu. Semuanya
Allah. Beberapa jam sebelum pernikahan aku hanya sandarkan pada Allah, jikapun
pernikahan itu batal di harinya, maka semua takdir Allah. Jikapun terjadi maka
itu pula takdir Allah. Aku sudah pasrah dan hanya meminta kepada Allah agar
keluargaku dilindungi dari rasa sedih. Tapi Maha Suci Allah, pernikahan kami
berlangsung.
Intinya
adalah bagi para pejuang cinta, hehehhe, jangan bosan-bosan meminta pada Allah.
Mintalah yang dengan bersamanya keimanan dan ketaqwaan kita bertambah. Walaupun
sebenarnya aku dan suami pun juga masih jauh keimanan dan ketaqwaan yang baik. Tapi
setidaknya dengan meminta dan mengiba mungkin Allah akan memberikan pasangan
yang sesuai, walaupun tidak selamanya seperti itu. Semoga teman-teman yang
membaca bisa mendapatkan pasangan yang terbaik menurut Allah. Amin.
