Rabu, 10 Oktober 2018

Berjuang itu tidak mudah!


Tuhan mencintaimu dengan caraNya, maka bersabarlah dalam menemukan cinta sejati

Hi dears,

This is my first writing in my blog. Hari ini aku mau share tentang pernikahan, siapa tahu bisa memberikan ide, pencerahan atau barakah lainnya bagi yang sedang berjuang mencari belahan jiwa teman mengarungi hidup di dunia. hehe. Eh, by the way perkenalan dulu kali ya. Nama aku Neng Sumi Kulsum, some people call me Umey.
Memang penting yang mey perkenalan?
Ya penting, so you know me and maybe i know you. :) 

Pernikahan. Mmmm. Aku dan suami menikah tahun lalu tepatnya 17 Desember 2017 dengan persiapan yang cukup singkat yaitu satu bulan kalau tidak salah. Sejujurnya kami tidak saling mengenal dengan baik. Kami menjalani pacaran semi-semi ta’aruf begitu, hehe, bukan ta’aruf murni seperti orang-orang lain. Awalnya setahun sebelum bertemu dengan suami tepatnya 2016, aku sedang galau-galaunya sebagai anak gadis yang tak kunjung menikah. Orang tua especially my mom sudah sering menyuruh untuk mencari jodoh, padahal waktu itu kuliah juga lagi perjuangan sidang skripsi, desperate lah. Iseng-iseng aku tanya mbah gugel tentang ta’aruf online, wkwkwkw, seputus asa itukah aku. Akhirnya ketemu deh aplikasi ini, namanya AyoNikah.com. Aplikasi ini mengharuskan kita registrasi berbayar, waktu itu bayarnya 300ribu. Nah aku pikir kalau orang-orang yang mau bayar untuk aplikasi ini mungkin adalah orang-orang yang benar-benar mencari jodoh bukan untuk main-main. Ya namanya juga ikhtiar, dicoba saja.

Singkat cerita, aku bertemu untuk berkenalan secara langsung dengan pria yang sekarang menjadi suamiku. Jujur saat itu aku tidak tertarik, dan seperti itupun dia. Kami terkesan bermain-main dalam komunikasi saja. Akhirnya kami putus komunikasi dan aku blok nomornya. Aku pun menemukan seseorang yang aku rasa akan menjadi belahan jiwa aku yang terakhir, ceileehh gayanya. Eh, tapi bener, kami saling mencintai namun sayang semuanya terganjal di restu orang tua. Akhirnya kami berpisah. Susah cyiin kalau memaksa menikah tanpa restu orang tua, nanti kualat bagaimana. Bingung juga kan.

Di tengah kegalauan entah kenapa aku buka kembali blokiran nomor sang suami. Eh tahunya dia kembali menghubungi dan bertanya kenapa nomornya di blok. Huhuuu habisnya dulu kamu nyebelin. Kami kembali berkomunikasi, tahun 2017 kalau tidak salah bulan Agustus aku bertemu kembali dengan doi. Semenjak dari situ beberapa kali kami bertemu. Terakhir bulan September aku bilang padanya bahwa tanggal 1 Oktober aku berulang tahun jika dia berniat serius maka lamarlah aku secara pribadi dulu sebelum ke orang tuaku. To the point begitu ngomongnya.
Eh ternyata bener, tepat di ulang tahunku doi memberikan cincin sebagai hadiahnya. Galau sih. Bener atau tidak tindakan aku ini. Aku curhat ke mamaku dan dia menyuruh aku solat istikharah. Mamaku sendiri tidak tahu menahu karena memang tidak kenal dengan doi.
https://kelascinta.com/relationship/pandangan-keliru-tentang-cinta

Aku coba untuk istikharah memohon petunjuk Allah benar atau tidak memilih pria ini menjadi imam hidup. Saat itu memang belum ada khitbah resmi jadi masih bisa untuk dibatalkan hanya diantara kami berdua. Kebetulan saat itu juga entah bagaimana beberapa orang datang juga untuk melamar. Makin galaulah. Aku memohon pada Allah untuk ditunjukan yang terbaik untukku. Doaku saat itu adalah berilah pendamping yang dengannya aku bisa lebih bersyukur dan bersabar. Alhamdulillah jawaban itu diberikan oleh Allah, aku mimpi sedang mengurus seorang ibu yang sudah sepuh yang ternyata adalah ibunya sang suami padahal aku belum pernah bertemu dengan beliau. Maka mantaplah aku memilih suamiku ini.

Tidak mudah untuk langsung memutuskan menikah, godaannya cukup banyak. Mulai dari terbuka sifat-sifat buruk kami, waktu yang singkat untuk mempersiapkan pesta pernikahan. Semuanya ujian kesabaran. Ah pokoknya dipenuhi airmata. Saat itu hanya Allah tempat bersandar, Allah tempat meminta, Allah tempat mengadu. Semuanya Allah. Beberapa jam sebelum pernikahan aku hanya sandarkan pada Allah, jikapun pernikahan itu batal di harinya, maka semua takdir Allah. Jikapun terjadi maka itu pula takdir Allah. Aku sudah pasrah dan hanya meminta kepada Allah agar keluargaku dilindungi dari rasa sedih. Tapi Maha Suci Allah, pernikahan kami berlangsung.

Intinya adalah bagi para pejuang cinta, hehehhe, jangan bosan-bosan meminta pada Allah. Mintalah yang dengan bersamanya keimanan dan ketaqwaan kita bertambah. Walaupun sebenarnya aku dan suami pun juga masih jauh keimanan dan ketaqwaan yang baik. Tapi setidaknya dengan meminta dan mengiba mungkin Allah akan memberikan pasangan yang sesuai, walaupun tidak selamanya seperti itu. Semoga teman-teman yang membaca bisa mendapatkan pasangan yang terbaik menurut Allah. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berjuang itu tidak mudah!

Tuhan mencintaimu dengan caraNya, maka bersabarlah dalam menemukan cinta sejati Hi dears, This is my first writing in my blog. Har...